Donal Septiaone

Refleksi diri seorang Donal Septiaone

Bumi yang Bergoncang (2)

leave a comment »

Jam di handphone menunjukkan pukul 17.30, saya sudah berkumpul kembali dengan keluarga. Tampak sekali rona kepanikan terpancar dari wajah mereka semua. Tegang, Cemas. Takut. Alhamdulillah tidak ada yang luka-luka.

Saya gendong Ghazy, ada perasaan cemas di wajahnya. Wajah polos yang bingung, tidak mengerti apa yang terjadi. Ketika gempa terjadi, Ghazy sedang berada di beranda, baru saja selesai bermain dengan sepeda roda tiganya. Bersama Bundanya. Kata Bunda, Ghazy sempat menangis karena melihat orang-orang yang panik.

Pandangan tertuju ke rumah. Dari luar tidak ada kerusakan berarti. Di dalam rumah terdapat banyak serpihan kaca. Lemari piring roboh menimpa meja makan. Kulkas bergeser hampir 2 meter dari tempat semula. Begitu juga dengan lemari TV, dan lemari yg menjadi pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga.

Di kamar, saya melihat pakaian-pakaian sudah berhamburan keluar dari lemari pakaian yang memang tidak pernah dikunci. Mata saya tertuju ke meja rias tempat terakhir kali saya meletakkan netbook saya. Alhamdulillah, masih berada di tempatnya. Tidak terjatuh.

Lantai dua insya Allah tidak apa-apa. Secara keseluruhan rumah masih dalam kondisi baik. Hanya terdapat beberapa retakan di dinding.

Gempa ini adalah gempa terdahsyat yang pernah kami rasakan. Kami merasakan efeknya jauh lebih besar dibanding gempa-gempa terdahulu. Kami tidak tahu berapa nilainya dalam SR. Tapi kami tahu satu hal, kami masih harus menunggu kelanjutan dari gempa ini. Akankah terjadi tsunami?

Memang, tsunami telah menjadi sebuah momok di Padang. Sejak terjadi tsunami di bumi Aceh Nanggroe Darussalam tahun 2006 lalu, ditambah ulasan media tetntang kemungkinan tsunami yang akan melanda Sumtera Barat, tsunami telah menjadi bagian dari kehidupan kami. Banyak orang yang mengungsi ke tempat yang lebih aman – sejauh mungkin dari garis aman tsunami, tetapi kami tetap bertahan di komplek kami. Bila memang terjadi tsunami, kami cukup naik ke lantai 2. Insya Allah daya hancur tsunami telah jauh berkurang sebelum sampai ke tempat kami. Menit demi menit kami menunggu. 30 menit tepatnya limit yang kami berikan. Kalau sudah lewat 30 menit, berarti tidak terjadi tsunami. Itu info yang kami dapatkan tentang bahaya tsunami.

Lewat sudah 30 menit. Tsunami tidak datang. Alhamdulillah.

Setelah kami merasa lebih aman, kami mengambil karpet dan kami gelar di luar rumah. Bantal, minuman, makanan ringan yang masih ada juga kami keluarkan. Tidak lupa bantal guling Ghazy (Ghazy tidak dapat tidur tanpanya :) )

Jaringan GSM dan CDMA terputus atau mungkin trafficnya sudah terlalu berlebih dari kapasitasnya. Hanya ada satu operator yang masih berfungsi dengan baik. Dan Alhamdulillah, keluarga kami sebagian besar memakai operator ini. Telepon rumah masih berfungsi, tapi banyak yang takut untuk masuk kedalam rumah menerima telepon. Keluarga di Jakarta dan Bandung banyak yang menghubungi via handphone. Mereka cemas dengan adanya berita yang mereka lihat di TV. Media menyebutkan besarnya gempa yang terjadi adalah 7,6 SR (yg belakangan dikoreksi menjadi 7,9 SR) dengan pusat gempa di Padang Pariaman.

———-

Malam itu listrik di kota Padang mati total. Hanya ada cahaya yang keluar dari lampu-lampu darurat dan lilin-lilin. Ada juga beberapa rumah yang menghidupkan gensetnya.

Kami memutuskan untuk bermalam di sisi jalan di luar rumah. Beralaskan karpet. Sama seperti kebanyakan tetangga. Ada juga beberapa yang memilih bermalam di masjid komplek.

Kegiatan telpon menelpon masih berlangsung. Baterai handphone mulai menipis. Akhirnya, satu persatu mulai kehabisan baterai.

———-

Sekitar jam 9 malam, hujan mulai turun. Kami memutuskan pindah ke tetangga kami yang punya genset. Bermalam disana. Kami berkumpul di ruang tamu. Beberapa mulai mencoba untuk tertidur. Keluarga tetangga sudah mulai tidur. Kira-kira jam 10 ada gempa susulan. Keluarga kami mulai berdiri dan berhamburan ke luar. Sementara keluarga tetangga tetap tertidur, tidak terganggu dengan gempa tadi. Akhirnya kami bersepakat untuk tidur di rumah kami saja:). Saya berdua dengan adik ipar membersihkan ruang tamu yang penuh dengan serpihan kaca. Kami gelar karpet untuk alas. Setelah cukup layak untuk ditempati, kami pindah dari ruang tamu tetangga ke ruang tamu rumah kami.

Tidak lama berselang, datang Mami (kakak dari ibu mertua) berserta Papi. Rumah mereka berada di tepi pantai. Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah kami. Alih-alih tidur di ruang tamu, mereka memutuskan untuk tidur di dalam mobil mereka.

Ditemani cahaya lilin yang temaram, kami bermalam didalam rumah. Diselimuti dingin malam yang hujan dan bayangan akan gempa-gempa susulan lainnya, kami tidur dalam keadaan siaga.

Written by ds1ry

16/10/2009 at 10:02

Posted in It's My Life

Tagged with ,

Bumi yang Bergoncang

leave a comment »

(Rabu, 30 September 2009)

Astaghfirullahil’adzim, ban motor bocor lagi nih…”, gumam saya dalam hati. Baru saja saya melakukan U-turn di sebuah jalan di kota Padang, tiba-tiba saya merasakan motor saya oleng. Saya pikir karena ban motor bocor lagi. Tetapi saya melihat pengendara motor di depan saya juga oleng, lebih tepatnya seperti bergoyang-goyang. Sontak saya tersadar bahwa bumi sedang bergoyang, gempa.

Saya langsung berhenti, tepat di depan sebuah bangunan kursus bahasa asing LBA-LIA dan memijakkan kedua kaki ke jalan. Motor-motor berhenti di sisi kiri jalan, mobil-mobil juga langsung berhenti. Tapi kok goyangannya terasa kuat sekali. Saya tak kuasa menahan motor. Motor saya rebahkan dan saya berusaha untuk tetap berdiri ditengah bumi yang bergoyang.

“Allahuakbar, ya Allah, Subhanallah…” Kata-kata tersebut terus bergema dalam hati saya. Belum sampai irama nafas saya kembali normal, ditengah gempa yang terhebat yang pernah saya rasakan, tiba-tiba saya melihat gedung LBA-LIA runtuh. Bum!!! Sebuah dentuman keras, suara beton yang beradu dengan bumi. Seketika debu-debu beterbangan menutupi bangunan tersebut. Menjadi kabut debu berwarna kecoklatan yang langung saja menyebar ke segala penjuru. Panik, saya segera meninggalkan motor saya dan lari ke tengah badan jalan.

Gempa berhenti, tanpa pikir panjang saya langsung kembali ke motor saya. Ada tumpahan bensin, mungkin keluar dari motor ketika motor ikut bergoyang karena gempa. Saya dirikan motor, putar kunci ke posisi on, starter, dan pergi. Saya tak berani melepaskan pandangan ke arah reruntuhan itu. Saya tak ingin pemandangan yang saya lihat di reruntuhan itu menambah kadar panik saya. Yang saya inginkan saat itu adalah kepastian kondisi keluarga saya. Dalam kepala saya berputar bayangan Ghazy, anakku. Menyusul bayangan istriku Riri dan juga keluarga yang ada di rumah. Mengisi seluruh otakku. Berputar-putar…

Jalanan macet. Aturan lalu lintas tidak lagi berlaku. Masing-masing pengendara hanya memikirkan dirinya. Semrawut. Klakson sahut-menyahut. Teriakan orang menambah kepanikan. Ditengah-tengah kekacauan itu saya hanya mencoba untuk lebih sabar, tidak tergesa-gesa, perbanyak istighfar. Saya minta keselamatan dari Allah untuk bisa segera sampai ke rumah. Saya minta keselamatan untuk semua keluarga di rumah. “Ya Allah…”

Sepanjang perjalanan saya melihat orang-orang yang panik. Berlarian. Bangunan banyak yang rusak, saya mencemaskan kondisi rumah. Di kejauhan terlihat asap hitam mengepul. Tebal. Kebakaran.

Alhamdulillah, di perjalanan pulang saya tidak mengalami kendala berarti. Di kelokan rumah, saya melihat istri, anak dan keluarga yang lain saling berpegangan di luar rumah. Bersama dengan para tetangga. “Terimakasih ya Allah, keluargaku selamat.”

—– bersambung

 

Written by ds1ry

05/10/2009 at 11:51

Posted in It's My Life

Tagged with ,

Lentera Jiwa

leave a comment »

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

back to reff

back to reff

(Nugie)

lenterajiwa

Written by ds1ry

15/08/2009 at 16:24

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Skenario dari Allah…

with one comment

Pada kesempatan ini saya ingin bercerita sebuah pengalaman indah yang baru saja saya alami.

Jum’at 13 maret 2009 pagi sekitar jam 8.30, saya pergi ke tempat servis motor langganan saya. Biasanya ketika servis pada jam tersebut kondisi disana masih sepi dan motor saya langsung diservis. Tapi kali ini berbeda. Motor saya tidak langsung diservis. Saya harus menunggu kira-kira setengah jam untuk tiba giliran saya. Padahal saya pikir kalo saya datang pagi-pagi tempat servisnya masih kosong seperti biasanya.

Read the rest of this entry »

Written by ds1ry

04/07/2009 at 15:36

Posted in Uncategorized

Tagged with

Harga Waktu Seorang Ayah

leave a comment »

Seperti malam-malam sebelumnya, Heri, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka, saat itu tiba dirumahnya jam 9 malam. Dan tidak seperti biasanya, Budi, putra pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD, membukakan pintu untuknya. Ia pun nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok belum tidur sayang?”, sapa Heri sambil mencium anaknya.

Karena biasanya putra satu-satunya ini sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Read the rest of this entry »

Written by ds1ry

25/05/2009 at 17:39

Posted in Resonansi

Tagged with